bdswiss erfahrung

Dr. K.H. Umay M. Dja’far Shiddieq* : Dimuliakan oleh Ilmu      

Dr.K.H. Umay M. Dja'far Shiddieq, MA* (Dimuliakan oleh ilmu)

* Beliau merupakan salah satu pengajar ta'lim pekanan di Masjid Babussalam

 

dr. k.h. umay m. djafar shiddieq

 

Ia menjadikan ibunya sebagai sumber doa, sumber rahmat Allah, sumber ridha-Nya, serta sumber motivasi dan kekuatan. “Pengalaman paling berkesan adalah saat menggandeng tangan keriput Ibu ketika thawaf mengitari Ka’bah tahun 1993,” ujarnya bangga. Di wajahnya, bara cinta kepada sang bunda tampak menyala-nyala.

Tak sedikit orang berpandangan bahwa kemuliaan itu hanya dapat dicapai dengan kekayaan materi. Na­mun, perjalanan hidup tamu kita ini mem­buktikan bahwa kemuliaan seseorang itu justru terletak pada iman dan ilmunya, yang dicapai melalui pendidikan.

Dr. K.H. Umay M Dja’far Shiddieq, atau yang juga akrab disapa ”Kiai Umay”, tamu kita ini, orang mengenalnya sebagai se­orang ulama yang memiliki perhatian men­dalam dalam dunia pendidikan.

Ia lahir pada 7 Juli 1954 di Jampang­kulon, Sukabumi, dari keluarga yang tidak mampu. Ia pun menjalani hidup dengan susah payah. Masa lalunya itulah yang membuatnya ingin berbuat banyak untuk dunia pendidikan.

Masa kecil memang acap menjadi masa yang menentukan masa depan setiap orang, dan itu bisa menjadi cermin bagi yang lainnya.

Umay kecil dahulunya bernama Uyun. Belakangan ia baru tahu dari ibu­nya bahwa uwaknya (kakak alm. bapak­nya) memberi nama “Mad Yunus”, yang terlanjur tertulis “Uyun” di catatan buku induk sekolah dasarnya. Nama itulah yang seterusnya digunakan di masa kecil­nya.

Ia terlahir dari pasangan Bapak Odog dan Ibu Hj. Djuarsih, dalam keadaan yatim, karena ayahnya wafat ketika ia masih dalam kandungan. Dengan susah payah ibunya merawat dan membesarkan bung­su lima bersaudara ini. Tidak ada catatan resmi tentang tanggal tepat kelahirannya. Maklum, di kampung yang ia hirup udara­nya belum ada bidan yang mencatat ke­lahirannya, hanya dalam ijazah SD-nya tertera tanggal 7 Juli 1954.

Kini, dengan mendirikan beberapa ya­yasan yang berorientasi pada pendidik­an umum dan agama, ia membuka jalan bagi kaum dhuafa yang ingin menimba ilmu tanpa harus terlalu memikirkan biaya pendidikan. Inilah yang tercermin dari Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam (Yapsi) Darul Amal, yang ia dirikan, de­ngan berbagai jenjang sekolahnya, mulai dari taman kanak-kanak, Madrasah Ibti­daiyah, Sekolah Menengah Pertama,, hing­ga Sekolah Menengah Umum.

“Carilah Ilmu, untuk Kemuliaanmu…”

Sudah dua bulan tahun pelajaran 1960-1961 berjalan, sepulang mengaji dan menginap di Masjid Bojongwaru, pagi itu ia merasakan hatinya perih tak terperi. Pikirannya melayang jauh, mem­ba­yangkan suasana ketika tak lama lagi anak-anak seusianya beramai-ramai ber­gerombol berjalan kaki menuju sekolah SD Bojong Genteng, yang jaraknya se­kitar dua kilometer dari rumahnya, se­mentara ia hanya bisa memandangi sua­sana itu. Umay kecil sampai mengurut dada, ia merasa sedih, keyatiman dan ke­miskinan serasa telah membedakannya dari yang lainnya. Ibunya tak sanggup memasukkannya ke sekolah.

Entah kenapa, sore harinya sang ibu berpesan, “Nanti malam tidak usah tidur di masjid. Di rumah saja.”

Tanpa berpikir kenapa, ia menjawab, “Ya.”.

Kira-kira pukul tiga dini hari ia di­bangunkan ibunya dan diajaknya ke tikar shalat. Rupanya sang ibu baru saja sele­sai shalat malam. Ternyata ibunya itu juga sedang menangis karena derita hati anak­nya yang ingin sekolah.

Kedua lutut ibunya dipertemukan de­ngan dua lututnya, kemudian sang ibu ber­ujar lirih, “Nak, semua manusia lahir de­ngan rasa ingin mulia. Ada manusia mulia karena kekayaannya, sedangkan kita mis­kin. Orang mulia karena turunan ra­den, sedangkan kita rakyat jelata. Orang mulia karena kerupawanannya, kita biasa-biasa saja. Orang mulia karena ke­pintarannya…maka carilah ilmu, untuk kemuliaanmu…”

Sesaat setelah mengatakan itu, ibu­nya mencium kening si anak, lalu di­pe­luknya di sela-sela isak tangisnya. Ibunya mengakhiri pembicaraannya de­ngan, “Maafin Emak, nggak bisa nyekolahin.”

Umay kecil tak begitu paham apa yang dikatakan ibunya. Dengan terkan­tuk-kantuk ia kembali ke kamarnya, lalu tidur lagi sampai  subuh  tiba.

Selepas Umay shalat Subuh, teringat olehnya sebagian dari ungkapan ibunya tadi malam, “Carilah ilmu, untuk kemulia­anmu…”

Mengurus Diri Sendiri

Ia berpikir, mencari ilmu harus se­kolah. Maka tanpa pamit kepada ibunya lagi ia pun segera berangkat ke SD Bo­jong Genteng III.

Ditemuinya guru Kelas 1 waktu itu, Pak Uton Bustoni. Sesudah bersalaman ia memberanikan diri untuk memper­ke­nalkan diri.

“Pak, nama saya Uyun, saya anak yatim, tapi mau sekolah.”

Berkat keberaniannya yang didorong oleh keinginan kuatnya dalam menuntut ilmu, ia diterima di sekolah itu tanpa harus mengeluarkan biaya.

Menginjak ketika kelas enam, guru­nya menganjurkan agar namanya ditam­bah supaya tidak terlalu pendek. “Siapa tahu nanti jadi orang penting,” kata Pak Obang Barnas, salah seorang gurunya, karena nama itu akan ditulis dalam ijazah.

Sore harinya ia bertanya ihwal nama yang cocok untuk dirinya ke Mu’allim Djamjuri di Masjid Bojongwaru.

Sang Mu’allim menawarkan tambah­an nama “Maryunani”, maka jadilah nama dalam Ijazah SD-nya Uyun Maryunani, disingkat U. Maryunani.

Tentang namanya sekarang, itu ter­jadi saat di pengajian. Ia sering dilatih ce­ramah dalam berbagai acara keagamaan yang teksnya dibuatkan guru mengajinya, Ustadz Abdullah Mubarak. Oleh sang ustadz, namanya diberi tambahan lagi “U. Maryunani Dja’far Shiddieq”.

Beranjak remaja, rupanya ia terma­suk penggemar karya-karya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), maka ia pun ikut-ikutan menyingkat namanya, Uyun Maryunani, menjadi Umay.

Saat memasuki PTIQ (Perguruan Ting­gi Ilmu Al-Quran), Jakarta, dengan Ijazah U. Maryunani, ia memperkenalkan diri dengan menyebut dirinya Umay, maka bagian pengajar di PTIQ meyakini bahwa U itu artinya “Umay”, maka ter­tulislah di Ijazah PTIQ Umay Maryunani. Kelak setelah berkecimpung di masya­rakat, nama pemberian guru mengajinya itu digunakan kembali, maka jadilah “Umay M. Dja’far Shiddieq”.

Dari sejarah namanya yang agak unik di atas, tampaknya sejak kecil ia memang telah banyak mengurus dirinya, sebagai orang yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang bapak, yang meninggal saat ia masih empat bulan dalam kan­dungan ibunya. Itulah sebabnya, ia men­jadikan ibunya sebagai sumber doa, sum­ber rahmat Allah, sumber ridha-Nya, serta sumber motivasi dan kekuatan. Ia pernah berujar, pengalaman yang paling berke­san adalah saat ia menggandeng tangan ibunya yang keriput saat thawaf mengitari Ka’bah tahun 1993.

Bebas Biaya

Umay kecil pun tamat SD Bojong Genteng tahun 1967. Ia merasa sangat berutang budi kepada Kepala SD, Pak Karta Soedarma, yang membebas­kan­nya dari iuran sekolah.

Ia tamat PGA 4 Tahun Al-A’arif Jam­pang Kulon tahun 1971. Lagi-lagi ia ber­utang budi atas kebaikan Pak Dindin Saefudin, yang juga membebaskannya dari SPP.

Didorong oleh keinginan kuatnya un­tuk meneruskan sekolah, sekitar 86 km hutan Pasir Piring ia tempuh dengan jalan kaki, karena tak ada ongkos naik bus ke Sukabumi. Di kota ini, atas kemurahan hati K.H. E. Fachruddin Masthura, ia di­terima di Pesantren Tipar dan tamat Madrasah ‘Aliyah Al-Masthuriyah, Tipar, Sukabumi tahun 1974. Sepanjang di Al-Masthuraiyah inilah ia sangat berutang budi atas perhatian dan kasih sayang keluarga besar K.H. Moh Sanusi (alm.).

Ia lalu mondok di Pesantren Salafiyah Siqayaturrahmah, bimbingan K.H. M. Mudrikah Hanafi, di Selajambu, Suka­bumi, 1975-1976.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke PTIQ hingga tamat tahun 1983. Sela­ma kuliah di PTIQ ia seperti mendapat orangtua angkat, yaitu keluarga Bapak Moh. Djubaedy Soelaiman. Setelah ta­mat, ia dipercaya menjadi dosen tafsir dan hadits ahkam (hukum) di alma­mater­nya sampai tahun 1990.

Tahun 1984, ia kuliah lagi di IAIN Ja­karta Fakultas Syari’ah, Jurusan Peradil­an Agama, atas kebaikan keluarga May­jen (Pol.) Drs. H Soedarto, selesai tahun 1987. Dan pada tahun 1996, atas kebaik­an keluarga Mayjen Dr. H. Loet Affandi, ia pun dapat menyelesaikan S-2 Pendi­dikan Islam dari Pascasarjana UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta).

Tahun 1999, dan atas saran guru tercintanya, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., ia melanjutkan studi S-3-nya di PPs (Program Pascasarjana) Univer­sitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Manajemen Pendidikan, juga atas kemurahan hati keluarga Dr. H. Loet Affandi.

Terjun di Tengah Masyarakat

Sejak masih kuliah di PTIQ tahun 1982 ia mulai merintis menyelenggarakan pengajian bulanan di kampungnya, de­ngan jumlah peserta pengajian pertama hanya delapan orang. Ia tekuni sebulan se­kali naik-turun bus Jakarta-Sukabumi, mensosialisasikan idenya membangun desa.

Dalam masa sepuluh tahun, ia meng­ubah mushalla kecil ukuran 4 x 6 meter men­jadi  masjid dengan ukuran 12 x 18 meter.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya Januari 1982, dengan lima orang lainnya, ia mendirikan Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam (Yapsi) Darul ‘Amal, yang pada tahun 2005 sudah memiliki luas ta­nah 54.000 meter (5,4 hektare), lengkap de­ngan bangunan masjid bernuansa war­na biru berukuran 30 x 29 meter berdiri megah tiga lantai, sekolah SMP dan SMA tiga lantai dengan 18 lokal kelas, tiga unit asrama semuanya dua lantai, peserta didik hampir 500 anak, dari mulai TK, MI, SMP, hingga SMA dan pesantren, Toko Ribhi Barka, Unit Pertanian dan Peternak­an, dan mudzakarah jama’ah bulanan yang rata-rata diikuti 300-400 jama’ah se­tiap Ahad pertama di bulan Miladiyah (Masehi).

Tahun 1979, tepatnya 1 Oktober 1979, ia menikahi tambatan hatinya sejak di PGA, Lily Yulifah, putri keenam Mu’allim E. Djuaeni, imam besar Masjid Kaum Jampang Kulon. Dari pernikahan­nya ia dikaruniai tiga putra dan seorang putri.

Tahun 1990 ia dipercaya menjadi di­rektur Masjid Jami’ Yarsi (Yayasan Rumah Sakit Islam). Dikelolanya masjid itu dengan manajemen modern, sehingga tahun 1994 terpilih menjadi masjid te­ladan tingkat DKI. Ia emban amanah Allah mengurus rumah-Nya itu sampai ta­hun 1996, dan pada bulan Oktober tahun itu juga ia mendirikan Yayasan Da’wah dan Sosial Islam Al-‘Urwatul Wutsqa (Yadsi UW), yang bergerak dalam penye­lenggaraan Kursus Tafhim Al-Quran, kini terdapat 24 kelas, yang tersebar di Jakarta.

Bersama rekannya di PTIQ, Drs. Mustari, ia membuka cabang yayasan di Tegal Mulyo, Klaten, Jawa Tengah, yang menyelenggarakan Madrasah Diniyah, TPQ Nurul Akbar, dan Pesan­tren Tahfizhul Quran. Dan kemudi­an, melalui salah satu anak asuh keperca­yaannya, Ustadz H. Hafidzi, tahun 1997, ia membuka cabang Yadsi UW yang ke­dua di Dusun Ngantirejo, Desa Beruk, Ka­rang Anyar, dengan memberdayakan 13 ustadz, yang tersebar di sekitar Kecamat­an Jatiyoso dan Tawang­mangu, menge­lola 11 TPQ dan bebe­rapa majlis ta’lim. Di­rencanakan di tem­pat itu akan diba­ngun pesantren terpadu.

Tahun 1998 keluarga ayah angkat­nya, Dr. Loet Affandi, mendirikan Yayas­an Al-Ma’shum Mardiyah di Desa Ga­ludra, Cugenang, Cianjur. Di tempat itulah kemudian ia menyelenggarakan Pesan­tren Terpadu Al-Ma’shum Mardiyah, yang kini santrinya mencapai 360 orang, terdiri dari putra dan putri.

Pada tahun 2000, tepatnya 26 Juni 2000, masyarakat Rawasari secara akla­masi mempercayainya menjadi ketua umum Masjid Jami’ Rawasari, sebuah mas­jid tua di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat, dan pada tahun itu pula ia mem­ben­tuk Badan Hukum Yayasan Masjid Jami’ Rawasari. Kini yayasan itu memba­ngun Masjid Al-Nizham 24 x 26 meter tiga lantai, menyelenggarakan TPQ & TK Islam Al-Rawdhah, dan memiliki Toko Al-Barka.

Ia merasakan betapa besar peran jama’ah pengajian Kursus Tafhim Al-Quran, baik untuk pembangunan proyek-proyek fisiknya maupun sebagai donatur tetap bagi anak-anak asuhnya. Tanpa me­lebihkan yang satu atas yang lainnya, ia merasa tak dapat melupakan para mun­fiqin-munfiqat (donatur) berikut: ke­luarga Deddy Brahim, keluarga Ismaildin Wahab, keluarga Ismail Akbar, keluarga Sal­man Harahap, keluarga Dr. Loet Affandi, keluarga  Muchtar Purbaya, keluarga Saeful Amir, keluarga Soni Dwi Harsono, keluarga Saleh Gunawan, keluarga Vence Raharjo, keluarga Amril Adnan, keluarga Sudarmadi, keluarga besar putri-putri dan para menantu Anas Latif, keluarga Bennyman Saus, dan yang lain-lainnya.

Selain sering menjadi pengisi mimbar agama Islam di beberapa stasiun televisi, serta memberikan ceramah-ceramah aga­ma di berbagai kesempatan, pada ta­hun 2005 dengan beberapa koleganya ia mendirikan CV Al-Ghuraba, yang ber­gerak di bidang penerbitan buku. Ia juga punya niatan akan mengisi sisa umurnya dengan menulis buku-buku agama seba­gai kelanjutan dari pembinaan pengajian-pengajian yang selama ini ia jalani.

Sosok Kiai Umay dengan perjalanan hidupnya yang penuh liku bahkan sam­pai menjadi inspirasi bagi seorang maha­siswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat menyusun skripsinya. Dalam skrip­si­nya, Khoirudin, demikian nama maha­sis­wa itu, mengangkat peranan Kiai Umay dalam mengembangkan Islam di Jam­pangkulon, Sukabumi, tanah ke­lahiran­­nya.

sumber: http://majalah-alkisah.com/ edisi Thursday, 07 November 2013 13:00

Masjid Babussalam